Jumat, 18 Februari 2011

2nd Short Story


Aku membayar obat itu dengan segera, sesegera aku mengambil bungukusan itu dari pelayan yang masih mengucapkan terimaksih dan tersenyum ramah saat aku meninggalkanya di belakang pintu yang ku tutup dengan keras itu. Hanya senyum basa-basi, tidak tulus, PENIPUAN pada pelanggan, gerutuku. Aku berjalan dengan sangat cepat, melewati jalan yang licin itu setelah diguyur hujan seharian ini, hal yang sangat lumrah terjadi di pedesaan.
Setengah jam kemudian aku sampai di rumahku yang kutempuh dengan berjalan kaki seperti biasa, karena memang jika sudah malam seperti ini tidak ada angkutan umum ataupun tukang ojek yang bisa mengantarkanku menuju gubuk kecilku. Dari luar gubuk kecil itu terlihat begitu suram, seolah tidak ada manusia yang menempatinya. Aku buka perlahan pintu yang sudah agak lapuk kayunya itu, aku melangkah dengan perlahan pula, tak ingin membangunkan ibuku yang mungkin sudah terlelap tidur. Aku masuk ke kamarnya yang memang tak pernah terkunci, kuletakan bungkusan obat di meja samping tempat tidurnya. Kuperiksa lacinya, kubuka lemarinya, ku lihat kolong tempat tidurnya, mencari sesuatu yang sangat ku benci. Betapa Leganya aku tak mendapati benda terkutuk itu di semua sudut kamar ibuku.
Akupun keluar dan memasuki kamarku sendiri, sama seperti kamar ibuku, kamarkupun tak ku kunci, agar aku bisa secepat mungkin mendatangi ibuku apabila terjadi hal-hal buruk menimpanya. Aku berharap hal itu tidak akan pernah terjadi, tidak akan pernah.
Namun dua jam kemudian aku terbangun dengan keringat membanjiri seluruh tubuhku, ibuku terbatuk dengan keras dan sangat nyaring. Ia memanggil namaku berkali-kali dengan suara yang tercekat. Aku berlari ke kamar ibuku. Aku hanya bisa terdiam mematung di depan pintu menyaksikan apa yang sedang terjadi. Ibuku menggelepar di lantai di samping tempat tidurnya, memegangi dadanya dan saputangan yang penuh darah, sementara itu di lantai terlihat cairan merah kehitaman yang membuatku begitu tercekat, ibuku terbatuk tak henti-hentinya, disela batuknya itu ia masih sempat memanggilku dengan lirih, dengan segenap suaranya yang tersisa. Panggilannyalah yang seolah mengembalikan kekuatan kakiku untuk berjalan menghamipirinya, kupeluk tubuh rentanya, kugenggam tangannya yang rapuh. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, aku hanya menangis dan menatap dalam matanya yang terlihat masih bersinar di keremangan kamar dan seolah ada banyak hal di dalamnya yang tak ku ketahui. Ia berbisik lirih, lirih sekali hingga aku tak bisa mendengarnya. Aku hanya menerka apa yang ingin diucapkan ibuku lewat gerakan bibirnya yang lambat-lambat itu serta dari tatapan matanya. Aku tahu ia hanya ingin mengucapkan “Aku menyayangimu”. Kemudian ia terbatuk hebat lagi hingga tubuhnya terguncang. “Ibu, aku akan segera telepon pak dokter, ia akan segera datang...” Aku masih belum menyelesaikan ucapanku ketika disela batuknya ibu dengan keras menggelengkan kepalanya, ia memeluku dan kemudian menyemburkan darah kehitaman itu ke seluruh bajuku. Aku mengguncang tubuh ibuku dengan keras, dengan harapan ia membuka matanya, tapi ternyata semua sia-sia. Ibuku tetap diam, tetap beku, tidak mengindahkan panggilannku yang kian melengking.
Aku benar-benar tidak percaya apa yang terjadi di hadapanku saat ini. Aku tidak percaya Ibu yang begitu ku cintai, yang begitu berarti dalam hidupku meninggalkanku dengan cara seperti ini. Aku terus memeluk tubuh yang semakin dingin itu dan terus menangis melengking. Kudengar ribut-ribut di luar, tetanggaku mendengar tangisanku mungkin, pikirku. Tapi aku tidak beranjak dari tempatku bersimpuh, betapapun kian kerasnya suara ketukan di pintu itu. Aku tidak akan meninggalkan Ibuku, tidak. Aku akan tetap disini, aku akan tetap memeluk ibuku.
Tiba-tiba terdengar suara keras di pintu dan orang-orang berhamburan ke arahku. Beberapa perempuan menjerit melihat darah kehitaman yang berceceran di lantai, kemudian mereka menyuruhku untuk bangun, tapi aku menolak. Aku bersikukuh tetap begini, tetap bersimpuh dengan ibuku di pelukanku. Aku berontak saat mereka menarikku dengan paksa dan membawa ibuku ke ruang tamu. Mereka membaringkannya di sana.
Aku tidak ingat dengan jelas apa yang kemudian terjadi, bagaimana kejadian-kejadian selanjutnya. Aku hanya ingat ada banyak orang dengan baju serba hitam mengelilingi satu pusara, tanahnya masih basah dan merah yang di dalamnya bersemayam orang yang paling aku cintai. Aku tidak tahu siapa saja yang datang, semuanya terlihat kabur, bahkan kakakku pun aku tak bisa mengenalinya. Hanya satu orang yang terlihat jelas, seorang lelaki di ujung sana dengan mata bulat, wajah tirus dan uban mencuat di bawah peci hitamnya yang tak pernah melepaskan pandangannya dariku. Aku balas memandangnya dengan sinar kebencian yang begitu hebatnya. Orang itu yang membuat semua ini terjadi, yang sudah menghancurkan hidupku & ibuku, yang melemparkan kami ke tempat ini, yang telah membuat hidup kami berubah 180°, yang membuat kami harus bekerja keras menjalani hidup kami, yang membuat Ibuku tenggelam dalam kesedihan sekian tahun lamanya, yang membuat penyakit itu menggerogoti ibuku dan membuatnya harus terseok-seok menjalani sisa hidupnya.
Aku ingat bagaimana hancurnya Ibuku beberapa tahun ini. Aku ingat bagaimana ia begitu tersiksa, begitu menderita dan begitu terbuang karena penghianatan yang dilakukan lelaki busuk yang seharusnya ku panggil “AYAH” itu. Pikiranku melayang, kembali ke beberapa bulan yang lalu, dimana ahirnya ibu mencurahkan keluh kesahnya.
Seperti biasa sepulang dari rumah murid bimbingan belajarku aku mampir ke Apotek membeli obat untuk ibuku yang menurut dokter daerah setempat hanya terserang gangguan pernafasan tanpa penjelasan lebih lanjut, padahal aku yakin ia terserang Lungs Cancer. Hujan turun dengan derasnya malam itu di iringi suara petir yang terus menggelegar. Setelah sekian lama berjalan di bawah hujan yang begitu deras aku sampai di rumah, seperti biasa pula dengan perlahan sekali aku memasuki rumah itu karena aku tak mau mengganggu Ibu dengan suara derit pintu tua itu, tapi suara batuk yang begitu nyaring dan terdengar begitu menyiksa membuatku berlari dengan segera ke kamar yang terletak agak jauh di belakang. Betapa kagetnya aku saat mendapati ibuku sedang terbatuk-batuk hebat dengan wajah yang sangat pucat dan satu tangannnya menekan dadanya seolah menekan rasa sakit yang menyerang sementara tangan yang satunya dengan erat memegang sebatang rokok yang entah dari mana ia mendapatkannya.
Iba aku melihat  raut wajah ibuku yang demikian kesakitannya, tapi amarah dan kekesalan serta kekecewaan tak kalah kuatnya menghantam hatiku melihat sebatang rokok yang terselip di jari yang sudah sangat kurus itu. Setengah berteriak aku memuntahkan semua perasaan yang selama ini kusembunyikan di dasar hatiku. “Ibu....!! Apa yang Ibu lakukan??? Ibu meracuni diri ibu sendiri, Ibu ingin membunuh dir Ibu sendiri??? Ibu tau, hujan deras dan petir menyambar-nyambar di luar sana, tapi aku tetap pergi ke Apotek untuk membelikan Ibu obat! Aku bekerja matia-matian dengan segenap kemampuanku, dengan upah yang jauh dari yang kuharapkan tapi aku tetap bersabar dan tidak mengeluh. Aku tak peduli apa yang terjadi pada diriku, yang kupikirkan hanya ibu, aku hanya ingin ibu sembuh, aku hanya ingin ibu bisa bertahan di sisiku lebih lama lagi. Aku tak ingin mendengar suara kesakitan ibu, aku tak ingin mendengar rintihan ibu, aku ingin ibu kembali sehat seperti dulu. Aku ingin melihat mata ibu yang dulu selalu ceria, bukan mata kosong seperti yang sekarang ada di hadapanku. Ibu, aku tidak mengeluh dengan keadaan kita, aku tidak mengeluh akan apa yang menimpa ibu, menimpa kita. Aku hanya ingin ibu tahu betapa berartinya kesehatan dan kesembuhan ibu. Betapa aku akan mengorbankan dan melakukan apapun untuh hal itu. Aku hanya memohon ibu menghargai sedikit... sedikkkiittttttttt saja apa yang ku lakukan selama ini, tolong hargai semua itu dengan menjaga kesehatan ibu sendiri dan membuang benda terkutuk itu sejauh mungkin. Apa itu masih terlalu berat untuk Ibu???”
Ia hanya terdiam sambil terus memandangku, tiada kata-kata yang terucap, hanya batuk keringnya yang keras & nyaring yang mengisi ruangan itu. “Nak....” Ia memulai bicaranya, pembicaraan yang cukup panjang. Aku ingat betapa getir ekspresinya saat ia mulai menceritakan beban pikirannya, bagaimana sakitnya ia setelah mengetahui ayahku menikah dengan perempuan lain dan memilih untuk pergi bersama pelacurnya itu. Betapa ia kehilangan, betapa ia merindu dan betapa ia membenci lelaki itu. Ia seperti kehilangan setengah jiwanya setelah kepergian lelaki itu, ia merasa dirinya tak utuh lagi, ia merasa hampa. Ia hanya bisa merenung sepanjang hari sambil menunggu aku pulang. Saat-saat itulah kesepian begitu menyergapnya, yang membuatnya mengkonsumsi benda terkutuk itu, yang membuatnya terkena Lungs Cancer yang mematikan itu. Betapa hanya Rokok lah temannya satu-satunya yang membuatnya melupakan kepenatannya & penderitaannya karena si lelaki busuk bajingan itu. Ia menangis dan memeluku, sungguh baru sekali ini aku melihatnya menangis, ia adalah orang yang tegar, betapapun ia menderita tak pernah ia meneteskan air mata, bahkan saat lelaki bajingan itu pergi meninggalkannya, saat terburuk dalam hidupnya, ia tetap menahan air matanya. Tapi malam ini tangisnya pecah, tangis yang selama beberapa tahun ini ia tahan, ia pendam dalam hati. Aku balas memeluknya kemudian membaringkannya di ranjang. Malam semakin larut, aku bangkit sambil mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di meja seraya berkata “Aku akan jauh lebih senang melihat Ibu menangis seperti ini daripada harus menahan semuanya dan berteman dengan benda mematikan ini. Aku selalu ada untuk mendengar semua keluh kesah ibu, bukan benda ini”. Semenjak saat itu aku rajin memeriksa kamar ibuku, memastikan tidak ada benda itu di kamarnya.
Sentuhan lembut di pundakku yang sudah sangat kukenal dulu - dan sangat kubenci tentunya, membangunkan aku dari lamunanku. Tepat di sampingku lelaki yang paling ku benci itu berdiri. Ia hendak berbicara ketika dengan amarah meledak-ledak aku mendorongnya hingga roboh dan tersungkur di atas makam ibuku, entah bagaimana tiba-tiba aku sudah memegang kayu nisan ibuku dan dengan sekuat tenaga menghujamkannya ke perut lelaki itu hingga darah segar meluncur ke segala arah dan merembes ke dalam tanah di mana ibuku tercinta berbaring. Aku memandang matanya yang mulai sayu kehilangan cahayanya. Ia menatapku dengan cara yang sungguh berlainan denganku. Ia tersenyum tipis, tapi aku membalasnya dengan tertawa lebar, penuh kepuasan penuh ejekan dan cemoohan. Sebungkus rokok meluncur dari kantongnya saat ia berusaha untuk bangkit, tapi hanya merupakan usaha yang sia-sia! Aku mengambilnya dengan cepat, mengeluarkan satu batang dan mulai menyulutnya dengan korek yang tadi pagi kugunakan untuk membakar semua rokok ibuku yang kusita dulu. Aku menghisap rokokku dalam-dalam tanpa mempedulikan orang-orang yang mendekat dengan tatapan mereka yang begitu tajam. Dengan satu gerakan tangan yang begitu lemah lelaki itu membuat semua orang berhenti, diam di tempat dengan pandangan bertanya.
Aku memulai narasiku..
“Ibu, lihatlah, aku mengembalikan apa yang pernah diambil darimu, aku tidak akan membiarkan Ibu kesepian lagi, lihatlah! Dia akan menemanimu menemukan Surga yang sudah menantimu. Aku membawa dia kembali, Ibu. Aku membawa dia kembali padamu!! Sambil menghisap benda terkutuk ini dulu Ibu meratapi Lelaki ini yang dengan teganya meninggalkan Ibu & menghancurkan hidup ibu. Kini, sambil menghisap benda terkutuk ini pula aku tertawa puas membawanya kembali padamu sambil tak lupa menikmati wajahnya yang pucat dan dingin mendekati wajah kematian. Terimalah kado terindahku, Bu. Lelaki jahanam ini tidak akan bisa berlari daimu dan meninggalkanmu lagi.” Tawaku melengking tinggi, dadaku terasa penuh oleh kesenangan, mataku kian berkilat melihat ia merintih kesakitan. Rintihannya yang kian menjadi adalah untaian nada yang indah, yang memanjakan telingaku bagai lagu pengantar tidur yang sudah sekian lama tak kudengar, yang teramat sangat ku rindukan....
Dengan sisa tenaga yang sangat sedikit ia memberi isyarat agar aku mendekat. Tanpa sadar aku mendekatkan telingaku ke bibir lelaki itu, lirih sekali ia berbisik “Sebenarnya Ayah ingin mengatakan ini sejak lama tapi tak pernah punya kesempatan. Ayah meninggalkan Ibumu.....bu---kan karena ada ......perem----puan lain, tapi ka-----rena Ayah.... terj-----angkit HIV, ayah..... ti--dak.....” Suaranya sangat parau dan tiba-tiba ia terkulai lemas meninggalkan aku yang masih tertegun...............

                                                                        Jakarta, 24 December 2010

First Short Story


01.33 AM.
December 13th, 1993
Sunyi, senyap... Tak ada suara yang terdengar kecuali detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar bagai detak bom waktu di tengah malam ini. Semuanya telah tertidur lelap, juga Si Blacky yang seharian ini menggongong tiada hentinya, seolah hari ini adalah hari terakhir dia menggongong. Sesekali terdengar hembusan angin malam yang bertiup menghempas daun-daun pohon mahogani dan membuat rantingnya berderak-derak, selebihnya semuanya bisu, beku, mati.
Aku masih terjaga, masih bergelut dengan pikiranku sendiri, masih tersesat dalam hutan belantara imajinasiku. Entah sudah berapa lama aku terbaring bisu seperti ini, mataku menerawang melewati jendela yang masih setengah terbuka, yang menyajikan pemandangan begitu indahnya, bulan separo ditemani entah berapa puluh ribu bintang di atas sana. Namun entah mengapa bulan tetap terlihat murung, pucat, begitu angkuh dan kesepian.
Aku mulai bertanya dalam hati, apakah aku juga seperti bulan itu yang merasa kesepian dan tersesat???

07.30 A.M
December 6th, 1993
Seorang gadis tergopoh-gopoh menerobos kerumunan orang yang memadati seluruh trotoar di pagi itu, matahari masih belum keluar dari peraduannya, enggan menemani pagi yang sibuk bagi orang-orang perkotaan yang terlihat bagai semut-semut kecil dari kejauhan. Rintik gerimis membuat orang-orang itu menyingkir dari trotoar dan mencari tempat untuk berteduh. Si gadis berjalan cepat, mendahului yang lain, mungkin karena pagi ini ia terlambat bangun, hal serupa ini jarang sekali terjadi padanya di hari-hari kerja, apalagi hari ini adalah hari senin, hari dimana semua aktivitas kerja dimulai kembali. Mungkin untuk pertama kalinya dalam 3 tahun ia bekerja di kantor yang terletak 5KM dari rumahnya ia terlambat. Sebuah catatan yang buruk, kutuknya dalam hati. Ia bergegas, secepat yang ia bisa, setengah berlari ia menyebrangi jalan itu hingga tibalah ia didepan sebuah gedung yang sudah 3 tahun ini ia datangi tiap pagi untuk mencari “sesuap nasi” kata orang-orang tua.
Bajunya sedikit basah karena ia seperti biasa, anti dengan payung, ia lebih memilih berbasah-basahan dengan hujan yang mengguyur tubuhnya daripada harus menjejalkan payung ke dalam tasnya. Entah apa alasannya, tak seorang pun tau. Bisa jadi karena bawaannya terlalu banyak sehingga tak ada ruang yang tersisa untuk menampung payung kecil bermotif bunga-bunga pink yang dibelikan ibunya 5 tahun yang lalu yang masih terbungkus rapi dalam plastik seperti pada saat ibunya memberikan payung itu.
Ia memasuki sebuah bilik toilet di lantai 3, kemudian mengganti kemejanya yang agak basah, ia mengoleskan make up tipis-tipis untuk sedikit menghilangkan kesan lelah dan lusuh di wajahnya yang begitu nampak.
Kemudian, ia berjalan menyusuri lorong ke ruangannya, sambil tersenyum dan menyapa ramah pada receiptionist yang sedang duduk di mejanya sambil berdandan dan mengobrol dengan temannya, merekapun menjawab dengan ramahnya sapaan itu diiringi senyum yang ramah pula. Ia berjalan dengan cepatnya melewati ruangan dihadapannya, tapi masih terdengar sekilas mereka berbicara mengenai dirinya, “ Bu Anna itu, orangnya ramah banget ya?? nggak mandang bulu, sama siapa juga ramah, nggak kaya yang lain yang ramahnya sama yang mereka anggap sederajat atau lebih tinggi derajatnya, kalau dia nyalon jadi presiden, aku pasti milih dia.” Ucap salah seorang dari mereka yang disambut ungkapan senada, tapi ia tak begitu mendengarnya dengan jelas karena suara mereka semakin menjauh, seiring langkahnya yang kian cepat meninggalkan mereka. Ia tersenyum sedikit mendengar pujian mereka dan seperti ada rasa kepuasan yang merasuki lubuk hatinya.
Ia sampai di mejanya tepat pukul 08.00, kemudian ia memulai rutinitasnya seperti biasa, mulai mengerjakan beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya, membaca berbagai laporan yang memuakan itu dengan sabar dan begitu teliti, hingga tidak satu titik atau komapun terlewatkan dari pandangannya.


06.13 P.M
December 8th, 1993
Seorang ibu sedang mempersiapkan makan malam di meja yang tidak berukuran besar, hanya ada 4 kursi disekelilingnya, makanan yang disajikanpun bukanlah makanan yang mahal, hanya Tim Ikan Mas, tempe goreng, sayur kacang panjang dan sambal terasi kegemaran si ibu yang selalu berucap ia tidak bisa makan tanpa sambal terasi, sungguh lucu, bagaimana bisa seseorang begitu tergantung pada sambal, apa artinya sambal, hanya cabe yang diulek bersama bawang merah dan sepotong bawang putih serta sedikit garam, gula dan tentu saja si peran utama, terasi. Tidak ada yang istimewa, tapi bagi si ibu, sambal terasi terasa begitu nikmat, dan selalu mengingatkannya pada anak semata wayang mereka yang seolah mencerminkan sambal terasi, pedas jika ia sedang marah, manis seperti kebiasaan sehari-harinya, namun akan bertambah manis jika ia sedang merajuk menginginkan sesuatu dan selalu menjadi pusat perhatian dan menarik bagi banyak orang, seperti terasi yang menarik nafsu makan ibunya, tapi terkadang ia seperti bawang putih yang tawar, tanpa ekspressi, sangat sulit mendeskripsikan anak semata wayangnya yang selalu menjadi kebanggannya dan permatanya.
Sang ibu mendatangi kamar anaknya dan mengetuknya dengan lembut, dengan lembut pula ia memanggil buah hatinya. “Ky, makan malam sudah siap, ayo kita makan, ayahmu sudah menunggumu di meja makan. Ia sudah kelihatan begitu lapar, tapi ia bersikukuh untuk menunggumu, ia tidak mau makan sebelum kamu makan katanya.” Dengan malas si anak turun dari ranjangnya dan mematikan tape yang berada di meja samping tempat tidurnya yang sedari tadi memutar lagu-lagu classic yang entah siapa penyanyinya dan entah sudah berapa puluh tahun ia bersenandung seperti itu. Si anak pun mengikuti sang ibu ke meja yang setengahnya sudah diisi piring-piring berisi masakan sang ibu. Mereka bertiga mulai menyantap makan malam dengan tenang dan heningnya, seolah mereka menyantap makan malam mereka di area pekuburan dimana 1 jenazah baru saja dikebumikan. Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, sang ayah memecah keheningan dengan suaranya yang sedikit bergetar “Ky, kamu sudah dewasa, sudah sepantasnya kamu mulai memikirkan masa depanmu, kami ini sudah tua, kami ingin melihat kau bahagia, bersanding dengan pria hebat pilihanmu, kami merindukan tangis bayi mungil di rumah ini. Kamu anak kami satu-satunya, kamu harapan kami satu-satunya pula. Sudahlah, lupakan kesenanganmu terhadap hal-hal yang tidak berguna itu, sudah bukan waktunya kamu terus bergelut dengan buku-buku yang tak berguna itu, persetan dengan puisi-puisi picisan, entah filosofi-filosofi apa yang telah merusak jalan pikiranmu dan sudah cukup pula kamu bekerja keras dengan pekerjaan dan kesendirianmu, janganlah kamu berlarut-larut dalam pikiranmu, dalam duniamu sendiri. Kamu harus.....”
Kata-katanya masih menggantung di udara ketika dengan wajah tanpa ekspresi si anak menggeser kursinya dan dengan sedikit membungkukan badan dan tanpa menatap ayah maupun ibunya, serta dengan penuh rasa hormat ia berkata “Maaf ayah, ibu, Ky sudah ngantuk, mau tidur. Selamat malam.” Ia pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya dengan berjalan begitu pelan hingga tidak menimbulkan suara, seolah ia berjalan mengambang, bukan menapak. Kedua orangtuanya tertegun sambil memandangi anaknya yang menghilang dibalik pintu kamar berwarna hijau itu.


11.35 P.M.
December 11st, 1993
Bau alkohol menusuk hidung ketika aku menyeruak masuk ke bar yang sudah ramai oleh para pengunjung yang rata-rata dari kalangan anak muda yang kurang berada, bar ini terletak di pinggir kota, memang diperuntukan bagi mereka yang berada di kalangan menengah ke bawah. Aku duduk di kursi paling pojok, tempat yang agak sepi dan jauh dari pemuda-pemuda yang sedang mabuk dan berteriak-teriak tidak karuan pada pelayan, mungkin mereka minta tambah bir, tapi uang di kocek mereka sudah habis sehingga si pelayan tidak mengindahkannya yang kemudian membuat si pemuda mabuk marah, pikirku.
Aku memesan minuman yang tidak terlalu banyak mengandung alkohol karena aku tidak ingin mabuk malam ini. Si pelayan memberikan minuman itu padaku sambil memandangku menyelidik dan mulai mencibir, “Tumben banget lo Ra. Biasanya lo paling suka sama yang kadarnya tinggi. Udah mau tobat ya?? Jangan dulu, masih banyak waktu. Tobatnya entar-entar aja, Ra. Stock minuman disini masih banyak. Lagian juga Malaikat Jibril belum mau ketemu lo koq, dia masih sibuk sama yang tua-tua yang udah bau tanah, udah nyempitin dunia” Katanya dengan tertawa lebar dan rasa puas yang terpancar jelas di wajahnya disambut tawa pengunjung bar yang ternyata sejak tadi memandangi aku. “Diem lo, Anjing. Gue ngga butuh pendapat dari perek kaya lo!!!” kataku seraya melemparkan selembar uang kepada si pelayan dan berjalan meninggalkan orang-orang yang masih tertawa karena lelucon si pelayan yang tidak lucu menurutku.

Mataku tertuju pada meja kosong yang berada di sudut ruangan, disitu tidak akan ada orang yang melihatku dan menggangguku karena meja itu seolah terpisah dari meja yang lain, seolah meja yang sengaja dipisahkan untuk tidak berbaur dengan yang lain, pikirku. Dengan cepat hanya dalam 1 menit aku telah duduk dan mencecap minumanku. Aku terkejut ketika seorang pria duduk dihadapanku dan tanpa basa-basi ia berkata dengan mata yang begitu jernih dan lurus menatapku “Tempat kamu bukan disini. Ini tempat kotor, nggak sepantesnya cewe intelektual kaya kamu ada disini.” Kemudian dengan cepat ia berlalu meninggalkan aku yanng masih menatapnya dengan bingung. Entah siapa orang itu, tiba-tiba datang dan secepat itu pula ia pergi. Aku teringat kata-kata terakhirnya, Cewe intelektual......?? Cemooh ku dalam hati.
Hari sudah sangat larut, aku berjalan melewati banyak orang yang sudah benar-benar mabuk, banyak diantara mereka yang teronggok di kursi-kursi kayu yang sudah mulai reyot itu, bahkan tak sedikit pula yang jatuh di lantai, berserakan bagai onggokan-onggokan daging yang tidak berguna. Sudah sesak dan penuh sekali bar ini, aku mulai mengutuk dalam hati. Pintu masuk hampir seluruhnya tertutup oleh orang yang berkerumun, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti bukan masalah harga cabe dan sembako yang kian hari kian meroket seperti yang selalu dikeluhkan ibuku di rumah. Susah payah aku mencoba menerobos orang-orang itu tapi sia-sia, aku tidak cukup kuat, ditambah lagi pengaruh alkohol yang kuminum, aku mengumpat si pelayan yang ku yakin sudah menambahkan alkohol yang tidak sedikit jumlah ke dalam minumanku, sial, dasar pelacur murahan.
Aku hampir menyerah ketika sebuah tangan yang kuat merangkulku dan membawaku melewati kerumunan orang-orang itu. Ternyata si pria tadi. Ia menawarkan untuk mengantarkan aku pulang, tadinya aku menolak tapi mengingat keadaanku yang sudah cukup mabuk aku mengiyakan tawarannya.

09.33 AM
December 12th, 1993
Ia sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat asri, pohon mahogani di samping kanan kirinya, pohon bougenvile bertengger dengan anggunnya, dengan bunga yang mulai bermekaran, memunculkan keindahan yang luar biasa. Burung-burung mengepakan sayapnya dan berkicau dengan begitu merdunya, iri hatinya melihat burung-burung itu, ingin rasanya ia bisa terbang bebas seperti mereka.
Seorang perempuan berusia sekitar 70 an, namun masih sehat dan awas penglihatannya memandang si pendatang dengan senyum lebar di bibir tipisnya yang pucat itu. Si pendatang berlari menghampirinya dan kemudian memeluknya. Airmata meleleh di kedua pipi si pendatang dan isaknya memecah kesunyian di pagi yang cerah itu. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah yang sudah begitu tua, entah sudah berapa ratus cerita dan keluh kesah serta sedu sedan ia dengar. Mereka duduk di ruang tamu yang suram. “Nenek, aku benar-benar seperti orang yanng tersesat, aku kehilangan pegangan, aku kehilangan penopang. Aku seperti kapal yang dilepas ke laut tanpa layar yang dikembangkan. Aku terombang-ambing oleh gelombang kehidupan, aku ingin menjadi diriku sendiri, aku benci dengan topeng dan semua kepura-puraan ini.” Ucapnya sambil terisak di pangkuan sang nenek. Si nenek hanya tersenyum sambil mengelus rambut si cucu. “Ada apa sebenarnya nduk?? Ceritakan semuanya pada nenek, jangan sepenggal-sepenggal seperti itu, nenekmu yang sudah pikun ini kurang paham apa maksudmu.” Si cucu menceritakan semua lembaran hidupnya, semua kisah yang belum pernah ia ceritakan pada siapapun. Ia membeberkan segala sesuatu tentang dirinya, tentang apa yang dialaminya, hingga ke lembaran-lembaran terhitam pun ia ceritakan seluruhnya. Ia hanya diam dan membeku setelah membeberkan semua isi hati dan pikiran-pikirannya, ia sempat berfikir neneknya akan mengusirnya dengan segera, ia pun sudah siap dengan itu sebenarnya, perlahan ia menarik diri dari pelukan sang nenek. Namun yang terjadi sangatlah mengejutkan si cucu. Sang nenek mendekapnya erat-erat dan terasa butiran airmata menetes ke kepala si cucu. Tak kalah derasnya air mata si cucu, ia benar-benar tak menduga reaksi sang nenek mendengar pengakuannya itu. Dengan suara yang serak serta diiringi isakan, ia berkata “Nduk.. Nduk... Nenek mengerti benar bagaimana perasaanmu, karena dulupun nenek seperti itu. Kamu itu mempunyai kehidupanmu sendiri, kehidupanmu ya kehidupanmu, tidak ada yang bisa mengusik hidupmu, kecuali ya Sing Moho Kuoso. Orangtuamu, teman-temanmu dan pria yang kamu temui itu tidak bisa mengubah hidupmu, kamu berhak memilih jalan mana yang kamu anggap paling baik, kalau mau berubah, itu baik, tapi jangan kamu berubah hanya karena orang lain, itu hanya akan bersifat sementara, suatu saat nanti kamu pasti akan kembali lagi. Kamu yang menentukan hidupmu, Nduk. Ya Cuma kamu yang bisa merubah hidupmu. Sekarang kamu tinggal pilih kamu mau jadi apa, kamu mau menjalani hidupmu bagaiman, semua ada ditanganmu, Nduk. Jangan mau lagi jadi boneka siapapun. Kamu ya kamu, bukan menjadi apa yang orang lain inginkan, bukan sekedar membahagiakan orang lain dengan tidak mempedulikan hati nuranimu sendiri.” Si cucu melepas pelukan sang nenek dan kemudian ia menciumnya dan bangkit minta izin untuk beristirahat di kamarnya.
Ia tidak tidur, ia merenung dan menerawang jauh hingga melewati batas kesadaran dan akal sehatnya.

03.30
December 13th, 1993
Aku berjalan menuju tebing yang kutempuh dalam waktu 15 menit itu. Langit masih gelap, entah mengapa tiba-tiba bulan dan bintang seolah sengaja bersembunyi, aku bertanya dalam hati, apa mereka membenci aku seperti aku membenci diriku sendiri sehingga mereka tidak berkenan menemaniku di malam terakhirku aku menjadi “aku”??
Sejenak aku terpaku memandang ke kedalaman jurang di bawahku, tidak terlalu dalam sebenarnya, aku tidak akan mati, aku meyakinkan dalam hati. Aku sudah memikirnya masak-masak seharian ini. Sesaat bayangan-bayangan orang yang kukenal berkelebat dalam fikiranku, yang paling jelas adalah bayangan nenek dengan senyum ramahnya dan si pria dengan mata tajamnya. Aku memejamkan mata dan memulai aksi terjun bebas ku.

December 14th, 1993
13.25 PM
Di sebuah kantor. “Kamu denger nggak masa katanya bu Anna mencoba bunuh diri di kampung neneknya, ia sepertinya stress dengan masalah cinta, mungkin patah hati. Duh kasian sekali ya, tapi untungnya dia masih bisa diselamatkan. Untunglah...” Kata seorang pegawai yang disambut dengan ucapan-ucapan empati dari rekan-rekannya.

14.03
Di sebuah rumah. “ Sungguh aku tidak tahu akan begini kejadiannya, aku pikir aku telah melakukan hal baik dengan memberinya nasehat yang kukira akan membangun rasa percaya diri dan semangat hidupnya, tapi ternyata aku salah, aku hampir membunuh cucuku.” Kata seorang nenek yang kini terbaring lemah mendengar berita yang mengejutkan tentang cucunya itu. “Tidak ibu, ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah, aku yang bodoh, tidak mengerti anakku. Aku menjadikan dia boneka kami, untuk kesenangan dan kebanggaan kami”

01.43
Di sebuah bar.
“Lo dengar berita itu??? Nggak nyangka cewe sekasar and seegois dia bakal nglakuin hal konyol kaya gitu, gue pikir dia orang yang kuat kalo liat cara ngomongnya, tapi ternyata dia cewe lemah, yang mau ngabisin idupnya sendiri” Cemooh si pelayan bar dengan cibiran yang khas.

03.10
December 15th, 1993
Aku terbangun dan mulai memcingkan mataku yang langsung disergap cahaya lampu yang sangat terang. Aku merasa sekujur tubuhku sakit, pegal diseluruh persendianku. Tulangkupun sepertinya patah dan lebur. Aku mulai memandang sekeliling dengan linglung. Aku bertanya-tanya, dimana aku?? Sedang apa aku dan siapa aku??? Aku melihat infus menggantung di atasku, aku melihat berbagai botol obat di sebelah mejaku, warna putih mendominasi ruangan ini, gordyn, tembok, ranjang, selimut dan bajuku yang melekat ditubuhku berwarna putih. Aku menyimpulkan aku pasti sedang di rumah sakit. Kenapa aku disini?? Pertanyaan yang selanjutnya muncul dikepalaku. Kemudian kepalaku berdenyut-denyut dengan sangat kencang, mencengkram seluruh syaraf otakku. Aku kemudian berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi sakit di kepalaku mendera lagi. Aku berhenti dan melihat sekeliling, aku tidak ingat apa-apa. Kemudian dengan terseok-seok susah payah, aku melongok ke papan nama yang tertampang di tempat tidurku dan aku mulai membaca, “Nn. KYRANA, 27 Tahun.” Namaku Kyrana. Oh Tuhan, aku benar-benar TIDAK INGAT APAPUN!!!!! Nama itupun tak berarti apa-apa bagiku. Aku benar-benar merasa asing dengan diriku sendiri. Aku seperti orang yang terlahir kembali. Aku terduduk lemas di ranjangku sambil memandangi bulan yang seolah tersenyum dengan cerianya padaku.

Jakarta, December 19th, 2010